Bisnis
Indonesia Weekend, 16 Juni 2013, memuat artikel
yang ditulis Anthony Dio Martin,
Managing Director HR Excelllency, Best EQ Trainer Indonesia, ahli Psikologi,
penulis buku-buku best seller. Artikel
ini menarik dan dapat menambah wawasan kita untuk “meneropong” perbedaan antara
seorang manajer dan bos. Berikut rangkumannya.
Dalam sebuah organisasi, kita mengenal tiga
gaya orang dalam memimpin: Level bos (orang yang suka memberi perintah), level manajer
(suka mengeksekusi perintah), dan lever leader
(orang yang menginspirasikan suatu petintah).
Pendiri Ford, Henry Ford, pernah berujar,
“Organisasi cukup memiliki satu leader,
selain itu para manajerlah yang menggerakkan organisasi itu.” Leader tanpa manajer itu buntung, manajer
tanpa leader juga buta. Jadi, leader dan manajer itu adalah satu
paket.
Perbedaan
nyata manajer vs bos
Seorang bos selalu merasa ada di atas
bawahan, berusaha tampil di depan, sedangkan manajer berada di bawah menopang
dan mendukung bawahan.
Seorang bos senang dipuji, sedangkan manajer
senang memuji yang berprestasi. Bos datang terakhir ke ruang meeting agar kelihatan penting, manajer
datang pada awal untuk mengatur jalannya meeting.
Bos ditakuti, sebaliknya manajer
dihormati. Bos dijilati oleh bawahan
sehingga merasa punya banyak pengikut, tetapi manajer berteman dengan bawahan.
Bos cenderung moody “Hari ini jangan ganggu
gua, gua lagi marah…” tapi manajer selalu siap untuk bawahannya, kapan pun.
Bos tak dapat menganlisis masalah tapi
hanya bisa menyalahkan. Sebaliknya manajer mengerti masalah dan berusaha
menyelesaikannya.
Kebanyakan bos menghindari masalah, tapi manajer
menyelesaikannya.
Secara ringkas dapat dikatakan dalam dunia
managemen, bos bergaya telling
(menyuruh kerja), sedangkan manager lebih inspiring
(mengilhami orang untuk bekerja). Seorang bos menciptakan aura ketakutan (management by fear), sedangkan manajer
menciptakan aura kasih (management by
love).
Bahasa bos sangat individualistik, “aku”
atau “kamu”, tetapai manajer bicara soal “kita” (teamwork). Bos lebih suka menunjuk siapa yang salah (people pointing), sedangkan manajer
menunjuk apanya yang salah (problem pointing).
Jadi, pilihan ada di tangan Anda, manajer
atau bos?
Berikut
tip sederhana untuk menjadi manajer handal:
Pertama, bersikaplah mandiri dalam artian mampu memimpin diri sendiri
sebelum memimpin orang lain.
Kedua, luangkan waktu untuk bicara dengan persuasif bersama tim sebelum
mengatur di lapangan.
Ketiga, gerakkan tim dengan contoh kongkret, bukan hanya dengan kata-kata.
Dengan demikian akan tercipta team work yang
bekerja dengan hati (love).