Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 November 2018

Manusia Indonesia, Jangan Marah...


Manusia Indonesia, jangan marah ya kalau kau dibilang munafik dan tak takut pada Tuhanmu. /Karena kau sudah diberi amanah dan disumpah atas nama Tuhanmu, tapi kau masih juga korupsi.

Manusia Indonesia, jangan marah ya kalau kau dibilang ingkar janji. /Karena pada saat kau kampanye caleg, kau janji akan memperjuangkan kepentingan rakyat. Tapi setelah kau jadi anggota dewan, yang kau perjuangkan kepentinganmu dan kelompokmu sendiri.
/ Tugasmu kan sebagai pengawal UUD (Undang Undang Dasar), tapi yang kau cari UUD (Ujung Ujungnya Duit).

Manusia Indonesia, jangan marah ya kalau kau dibilang tak taat aturan lalulintas. /Karena sudah ada tanda dilarang parkir, kau parkirkan mobilmu di situ./ Trotoar itu untuk pejalan kaki, tapi kau pacu motormu di situ.

Manusia Indonesia, jangan marah ya kalau kau dibilang bandel. /Karena kau sudah dilarang jualan di trotoar. Tapi kau masih juga menggelar dagangan di situ. Sehingga orang susah lewat.

Manusia Indonesia, jangan marah ya kalau kau dibilang jorok. /Karena sudah ada petujuk buanglah sampah pada tempatnya dan ada dendanya pula di Perdanya. Tapi mengapa sungai yg jadi sumber air minummu banyak sampahnya. Katanya laut Indonesia juga jadi salah satu penyumbang sampah plastik terbanyak di dunia.

Manusia Indonesia, jangan marah ya kalau kau dibilang tak taat pada ajaran agama./Karena setiap pagi dan tengah malam banyak televisi menyiarkan ceramah agama, tempat ibadah juga banyak, tapi mengapa masih banyak berita kejahatan: Perampokan, maling, pembunuhan, narkoba, prostitusi, .....

Manusia Indonesia, jangan marah ya kalau kau dibilang tak pandai bergaul di sosmed/ Karena sosmed seperti fb ini dibikin untuk sarana pertemanan, bersilaturahim, menjalin persahabatan. Tapi mengapa kau pakai untuk saling caci-maki, mencela, menghujat, dan menyebarkan hoax.

Manusia Indonesia, jangan marah ya kalau dibilang di tanahmu masih banyak terjadi kesenjangan antara si kaya dan si miskin. /Karena dibalik tembok dinding rumah-rumah
mewahmu, masih banyak orang yang berumah berdinding tripleks.



Minggu, 16 Juni 2013

TAK TAKUT NERAKA?


Sejak aku kecil dulu, orang tua sering kali menasehati, kalau tidak mengerjakan salat hukumnya dosa. Kalau berbohong dosa. Kalau melawan orangtua dosa. Berbuat nakal dosa. Dan kalau banyak dosa nanti di hari akherat masuk neraka. 

Sampai sekarang pun anak-anak di sekolah selalu dididik untuk tidak mengatakan “ditakut-takuti” seperti itu: Kalau gak salat hukumnya masuk neraka.

Kenyataannya, manusia banyak yang tak takut neraka. Gak usah bicara penjahat jalanan. Lihat saja para pejabat , anggota dewan, mereka orang-orang pintar, ada yang sehari-hari terlihat alim, tapi ternyata terlibat korupsi juga. Jelas, mereka gak takut neraka.

Itulah kesalahannya. Seharusnya anak-anak sekolah itu gak usah ditakut-takuti: dosa = masuk neraka. Tapi seharusnya diajari untuk bersyukur kepada Allah, sang pencipta alam semesta. Kita mengerjakan salat sebagai rasa syukur atas kehidupan yang telah diberikan-Nya.  Bukan kalau gak salat nanti masuk neraka.

Kita berbuat baik kepada orang lain bukan supaya masuk surga, tapi untuk keharmonisan dalam hidup sesama mahluk sosial.  Kita tidak mencuri atau tidak korupsi bukan untuk menghindari dosa atau masuk surga tapi supaya tidak merugikan orang lain.

Kita mengerjakan ibadah dan perbuatan baik kepada sesama mahkluk bumi ini gak perlu menuntut imbalan pahala dan nanti masuk surga. Tapi memang begitulah seharusnya sebagai mahluk yang berakal. Kalau nantinya di hari akhir diganjar dengan surga berisi bidadari oleh Allah atas ibadah dan perbuatan baik yang kita lakukan selama hidup di bumi, itu adalah bonus dari-Nya.

SURGA DI MANA?


Suatu sore saat aku santai di depan tv, anak lelakiku, 4 tahun, menjahili kakaknya, 11 tahun, yang sedang membaca buku. Si Kakak yang kesal menghardik, “Kalau Adik gangguin kakak terus, ntar dosa lu. Kalo dosa gak masuk surga.”

Si Adik lantas bertanya, “Emangnya surga ada di mana, Kak?”

Si Kakak pun dengan spontan menjawab dengan perumpamaan, “Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu.”

Si Adik mengernyitkan kening keheranan.

Tak lama kemudian, Ibunya pulang dari kantor. Si Adik pun lantas meminta ibunya duduk di sofa dan ia mengangkat kaki ibunya dan memperhatikan telapak kaki si Ibu.

“Mau ngapain sih, Nak lihatin kaki Mama?”

“Kata kakak, di bawah telapak kaki ibu ada surga.”

"????????"

Rabu, 12 Juni 2013

Jujur

Jujur 1: Polos
Kemarin, senja hari sepulang aku kerja, anakku, 4 tahun, dengan semangat melapor: “Pak, tadi di sekolah sehabis main di kelas montesori, mainannya aku umpertin di bawah karpet. Terus Ibu Guru nanya, ‘Rafsan, kok mainanya diumpetin?’ Rafsan bilang, ‘Bu, Rafsan malas merapikannya’. Guru nanya lagi, ‘Siapa yang ngajarin seperti itu?’ Rafsan bilang, ‘Rafsan sendiri, Bu.”

Jujur 2: Sebuah Permen
Aku teringat waktu kuliah dulu soal prilaku jujur seorang teman. Suatu hari, kami membeli permen di sebuah warung pinggir jalan. Setelah kurang lebih lima ratus meter kami berjalan meninggalkan warung, Si Teman berhenti dan memperhatikan permen yang digenggamnya. Terus dia berujar, “Bang, tadi kan kita beli permen empat biji, kok ini permennya dikasi lima sama penjualnya?”
“Untung dong, bonus kali?” jawabku sekenanya sambil kami terus berjalan.
Tiba-tiba Si Teman berhenti. “Bang, tunggu di sini ya!”
“Lho mo ke mana?”
“Ngembaliin permennya!”
Dia pun balik badan dan berjalan setengah berlari untuk mengembalikan sebuah permen seharga sekitar Rp25. Padahal kami sudah lima ratus meter meninggalkan warung.

Jujur 3: Pegang Janji
Kejadian ini juga selalu kuingat kalau bicara soal kejujuran. Aku bertemu seorang perempuan di Perpustaan LIPI, Jakarta.  Saat mencari catalog, sebut saja Si Nona (aku lupa namanya), mengenalkan diri sebagai mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta Pusat, dan bertanya, “Mas, saya mau pinjam satu buku tapi belum punya kartu. Boleh pinjam kartu perpustakaannya?
Aku berpikir sejenak. Baru kenalan, trus pinjam kartu untuk pinjam buku…???
 “Mau pinjam berapa hari?” tanyaku.
“Seminggu. Minggu depan saya kembaliin. Boleh?”
Dengan “ragu-ragu” aku setuju. Ia pun menggunakan kartu perpustakaanku untuk meminjam sebuah buku tebal.
Setelah kami berpisah, Si Nona pulang dengan bukunya. Belakangan baru aku tersadar, aku belum meminta identitasnya, alamat rumahnya, apalagi nomor teleponnya. Yang ku tahu dia hanya mahasiswa di sebuah kampus. Itu aja.
Bagaimana kalau dia gak datang lagi. Dia kan belum menjadi anggota perpustakaan. Kalau buku gak dikembalikan, aku akan menanggung risiko bayar ganti rugi ke perpustkaan. Mencari nama satu orang (yang belum tentu juga benar) di sebuah kampus kan repot amat. Itu pikiran negatif yang mampir di benakku.
Namun, seminggu kemudian…, “Terima kasih ya, sudah meminjamkan kartunya.”

Dari ketiga cerita di atas, aku kadang terheran-heran melihat kenyataan yang terjadi saat ini: Berita tentang ketidakjujuran hampir setiap hari menghiasi media massa kita. Berita tentang pejabat-pejabat yang ditangkapi KPK.
Aku tergelitik membaca sebuah stiker yang ditempel entah oleh siapa di gerobak penjual bubur ayam di seberang jalan depan kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta. Bunyinya kira-kira begini: SEKOLAH NYONTEK, MUDA KORUPSI, TUA MASUK BUI.