Sejak aku kecil dulu, orang tua sering kali
menasehati, kalau tidak mengerjakan salat hukumnya dosa. Kalau berbohong dosa. Kalau
melawan orangtua dosa. Berbuat nakal dosa. Dan kalau banyak dosa nanti di hari
akherat masuk neraka.
Sampai sekarang pun anak-anak di sekolah selalu
dididik untuk tidak mengatakan “ditakut-takuti” seperti itu: Kalau gak salat hukumnya
masuk neraka.
Kenyataannya, manusia banyak yang tak takut
neraka. Gak usah bicara penjahat jalanan. Lihat saja para pejabat , anggota
dewan, mereka orang-orang pintar, ada yang sehari-hari terlihat alim, tapi
ternyata terlibat korupsi juga. Jelas, mereka gak takut neraka.
Itulah kesalahannya. Seharusnya anak-anak
sekolah itu gak usah ditakut-takuti: dosa = masuk neraka. Tapi seharusnya
diajari untuk bersyukur kepada Allah, sang pencipta alam semesta. Kita
mengerjakan salat sebagai rasa syukur atas kehidupan yang telah diberikan-Nya. Bukan kalau gak salat nanti masuk neraka.
Kita berbuat baik kepada orang lain bukan
supaya masuk surga, tapi untuk keharmonisan dalam hidup sesama mahluk sosial. Kita tidak mencuri atau tidak korupsi bukan
untuk menghindari dosa atau masuk surga tapi supaya tidak merugikan orang lain.
Kita mengerjakan ibadah dan perbuatan baik
kepada sesama mahkluk bumi ini gak perlu menuntut imbalan pahala dan nanti
masuk surga. Tapi memang begitulah seharusnya sebagai mahluk yang berakal.
Kalau nantinya di hari akhir diganjar dengan surga berisi bidadari oleh Allah
atas ibadah dan perbuatan baik yang kita lakukan selama hidup di bumi, itu
adalah bonus dari-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar