Jujur 1: Polos
Kemarin, senja hari sepulang aku kerja, anakku, 4 tahun, dengan semangat melapor: “Pak, tadi di sekolah sehabis main di kelas montesori, mainannya aku umpertin di bawah karpet. Terus Ibu Guru nanya, ‘Rafsan, kok mainanya diumpetin?’ Rafsan bilang, ‘Bu, Rafsan malas merapikannya’. Guru nanya lagi, ‘Siapa yang ngajarin seperti itu?’ Rafsan bilang, ‘Rafsan sendiri, Bu.”
Jujur 2: Sebuah Permen
Aku teringat waktu kuliah dulu soal prilaku jujur seorang teman. Suatu hari, kami membeli permen di sebuah warung pinggir jalan. Setelah kurang lebih lima ratus meter kami berjalan meninggalkan warung, Si Teman berhenti dan memperhatikan permen yang digenggamnya. Terus dia berujar, “Bang, tadi kan kita beli permen empat biji, kok ini permennya dikasi lima sama penjualnya?”
“Untung dong, bonus kali?” jawabku sekenanya sambil kami terus berjalan.
Tiba-tiba Si Teman berhenti. “Bang, tunggu di sini ya!”
“Lho mo ke mana?”
“Ngembaliin permennya!”
Dia pun balik badan dan berjalan setengah berlari untuk mengembalikan sebuah permen seharga sekitar Rp25. Padahal kami sudah lima ratus meter meninggalkan warung.
Jujur 3: Pegang Janji
Kejadian ini juga selalu kuingat kalau bicara soal kejujuran. Aku bertemu seorang perempuan di Perpustaan LIPI, Jakarta. Saat mencari catalog, sebut saja Si Nona (aku lupa namanya), mengenalkan diri sebagai mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta Pusat, dan bertanya, “Mas, saya mau pinjam satu buku tapi belum punya kartu. Boleh pinjam kartu perpustakaannya?
Aku berpikir sejenak. Baru kenalan, trus pinjam kartu untuk pinjam buku…???
“Mau pinjam berapa hari?” tanyaku.
“Seminggu. Minggu depan saya kembaliin. Boleh?”
Dengan “ragu-ragu” aku setuju. Ia pun menggunakan kartu perpustakaanku untuk meminjam sebuah buku tebal.
Setelah kami berpisah, Si Nona pulang dengan bukunya. Belakangan baru aku tersadar, aku belum meminta identitasnya, alamat rumahnya, apalagi nomor teleponnya. Yang ku tahu dia hanya mahasiswa di sebuah kampus. Itu aja.
Bagaimana kalau dia gak datang lagi. Dia kan belum menjadi anggota perpustakaan. Kalau buku gak dikembalikan, aku akan menanggung risiko bayar ganti rugi ke perpustkaan. Mencari nama satu orang (yang belum tentu juga benar) di sebuah kampus kan repot amat. Itu pikiran negatif yang mampir di benakku.
Namun, seminggu kemudian…, “Terima kasih ya, sudah meminjamkan kartunya.”
Dari ketiga cerita di atas, aku kadang terheran-heran melihat kenyataan yang terjadi saat ini: Berita tentang ketidakjujuran hampir setiap hari menghiasi media massa kita. Berita tentang pejabat-pejabat yang ditangkapi KPK.
Aku tergelitik membaca sebuah stiker yang ditempel entah oleh siapa di gerobak penjual bubur ayam di seberang jalan depan kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta. Bunyinya kira-kira begini: SEKOLAH NYONTEK, MUDA KORUPSI, TUA MASUK BUI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar