Ternyata, selain di otak, serangan stroke juga bisa terjadi di mata karena tersumbatnya pembuluh darah yang berada di retina sehingga berakibat pada penurunan fungsi penglihatan secara tiba-tiba, bahkan sampai pada kebutaan permanen. Kasus ini disebut juga sebagai Stroke Mata.
Gejala stroke mata salah satunya adalah penglihatan yang tiba-tiba kabur atau menghilang, disebabkan oleh pembuluh darah di retina yang tersumbat dan pecah.
Itu pula yang kualami minggu lalu. Pandangan mata kiri tidak fokus. Misalnya melihat benda lurus di kejauhan akan terlihat melengkung. Membaca dengan kacamata plus juga tidak fokus. Setelah dilakukan pemeriksaan, ada pendarahan di retina bagian dalam akibat pembuluh darah yang pecah.
Dokter spesialis mata di RS mata JEC, dr. Elvioza SpM (K), yang memeriksaku bilang, penyakit yang kualami termasuk stroke mata. Menurut Ketua Vitreoretina Service RS Mata JEC ini gejala penyakit ini memang mirip stroke. Disinyalir penyebabnya karena tekanan darahku yang cenderung tinggi (hipertensi) beberapa bulan terakhir.
Selain hipertensi, beberapa faktor risiko yang bisa menjadi penyebab terjadinya stroke mata yaitu pada orang-orang yang memiliki riwayat penyakit diabetes melitus, penyakit kardiovaskuler, kolesterol tinggi, penggunaan alat kontrasepsi hormonal seperti pil KB.
Sementara itu, perokok aktif dan juga ibu hamil merupakan golongan yang juga memiliki risiko tinggi terserang stroke mata. Selain itu, faktor genetik pun bisa menjadi salah satu faktor risiko yang mesti diperhitungkan. (sumber:http://jec.co.id/id/news))
Maka, tindakan yang dilakukan untuk mengobati mataku adalah dengan injeksi avastin pada mata kiri pada hari Selasa, 19 Juni 2017. Untuk perkembangannya, dikontrol sebulan lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar