Jumat, 13 Mei 2016

ULI Luncurkan Proram #beliyangbaik untuk Lingkungan Lestari




Program #beliyangbaik ini merupakan bagian dari kampanye Unilever brightFuture yang bekerja sama dengan World Wild Fund (WWF) dan Hypermart.



Nyoman Iswarayoga, Maria Dewantini Dwianto, Mona Ratuliu, Riafinola (Nola B3), dan Novita Angie (dari kiri ke kanan) dalam acara bincang-bincang #beliyangbaik di Lippo Mal Kemang.
















Program #beliyangbaik ini merupakan ajakan kepada konsumen agar secara aktif dalam menciptakan lingkungan yang lestari demi masa depan yang cerah. Hal ini sejalan dengan komitmen Unilever untuk menumbuhkan bisnisnya seraya mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan serta meningkatkan dampak positif bagi masyarakat yang dituangkan dalam strategi Unilever Sustainable Living Plan (USLP).

Konferensi pers peluncuran program ini digelar di Lippo Mall Kemang, 21 April 2016, yang bertepatan dengan peringatan Hari Kartini dan juga Hari Bumi (22 April). Acara dikemas dalam bentuk talkshow yang diawali dengan sambutan-sambutan oleh Sancoyo Antarikso, Governance and Corporate Affairs Director & Corporate Secretary ULI;  Nur Aini, mewakili pejabat dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,  dan Bpk. Fernando Revi, mewakili Danny Kojongian, Director of Public Relation & Communication Matahari Putra Prima (pengelola Hypermart).


Dalam talkshow yang membahas tentang perlunya masyarakat bijak dalam memilih produk yang akan dibeli ini, hadir sebagai pembicara Nyoman Iswarayoga, Direktur Komunikasi dan Advokasi WWF Indonesia; selebritas Novita Angie, Mona Ratuliu, Riafinola (Nola B3) mewakili kelompok “Mom Sweet Mom”, dan Maria Dewantini Dwianto (Mia), Head of Corporate Communications ULI.


Menurut Pak Sancoyo, konsumen, yang ada di bagian hilir dalam rantai bisnis Unilever, merupakan pihak yang mutlak harus dilibatkan apabila kita ingin menciptakan masa depan yang lebih cerah melalui cara berbisnis yang berkelanjutan. “Sebab,“ jelas beliau lebih lanjut, “68 persen jejak karbon Unilever ternyata ada pada cara konsumen yang memakai produk, seperti memasak, mencuci, mandi, dan saat membuang kemasan produk.”


Program #beliyangbaik ini merupakan cara Unilever menggandeng dan membangun kepedulian konsumen dalam memilih dan memperlakukan produk yang dipakai.  

Baca juga tulisan terkait: “Kegiatan Konsumen #beliyangbaik untuk Lingkungan Lestari”, “Lima Hal yang Perlu Diketahui Konsumen Sebelum Membeli Produk” dan “Pengurangan Jejak Karbon yang Telah Dilakukan Unilever Indonesia”.

Senin, 02 Mei 2016

Kebijakan Kantong Plastik Berbayar

Fotograph by Mardisby
Tas belanja seperti ini bisa dipakai berulang.



Bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2016 yang jatuh tepat pada hari Minggu (21/2), pemerintah mulai memberlakukan kebijakan kantong plastik berbayar. Penerapan program sesuai Surat Edaran KLHK No.S.1230/PSLB3-PS/2016.

Pemerintah melakukan uji coba minimal harga pembelian atas kantong plastik, dengan harga dasar Rp200 dan dilakukan selama enam bulan ke depan. Pada tahap awal, kebijakan ini diterapkan di toko modern seperti minimarket, supermarket, dan hipermarket.

Dengan kebijakan ini, diharapkan masyarakat terdorong untuk membawa kantong belanja sendiri sehingga akan mengurangi sampah plastik. Pemerintah mengharapkan setidaknya Indonesia bisa mengurangi 20 persen jumlah sampah plastik pada 2018.


Fakta Tentang Kantong Plastik




Indonesia peringkat ke-2 dunia penyumbang sampah plastik ke laut.



Setiap tahun orang Indonesia menggunakan 100 miliar kantong plastik.



Hasil survei KLHK, 87,2% setuju kebijakan kantong plastik berbayar diterapkan.



[Sumber: Media Indonesia/Dietkantongplastik/KLHK/Leafplus]

Zat Berbahaya pada Kemasan Makanan






Kita tentu sudah sangat akrab dengan kemasan makanan ini: botol plastik air mineral, pembungkus makanan non-kemasan (koran, majalah, buku bekas), dan styrofoam. Kemasan ini memang praktis dan murah. Namun, di dalam kemasan tersebut terdapat zat-zat berbahaya bagi kesehatan.


Botol Kemasan Plastik Minuman Jangan Dipakai Berulang

Kebiasaan ini dapat berakibat buruk pada kesehatan kita, sebab bahan plastik botol (polyethylene terephthalate / PET) yang dipakai di botol-botol kemasan ini mengandung zat-zat karsinogen.

Zat-zat karsinogen menyebabkan kanker dengan mengubah asam deoksiribonukleat (DNA) dalam sel-sel tubuh, dan ini mengganggu proses-proses biologis (wikipedia.org).


Bila memang ingin memakai ulang kemasan ini, hanya dapat dipakai 1-2 kali saja, tidak boleh lebih dari seminggu, dan harus ditaruh di tempat yang jauh dari matahari.


Bila kita menaruh botol kemasan ini di mobil, usahakan tidak terpapar sinar matahari.

Kebiasaan mencuci ulang juga dapat membuat lapisan plastik rusak dan zat karsinogen itu bisa masuk ke air yang kita minum.



Styrofoam 


Pembungkus makanan ini sangat populer sebagai pembungkus makanan di Indonesia. Mulai dari makanan kelas pinggir jalan seperti bubur ayam dan mie ayam hingga restoran di mal-mal masih menggunakan kemasan ini. Padahal pembungkus ini selain kurang baik bagi kesehatan juga merusak lingkungan karena tidak bisa didaur ulang dan sulit terurai di alam.


Riset terkini membuktikan bahwa styrofoam diragukan keamanannya untuk wadah makanan. Penelitian dengan hewan percobaan menyimpulkan, styrene bersifat karsinogenik (menimbulkan kanker). Beberapa penelitian menunjukkan, styrene juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia, misalnya neurotoxic (kelelahan, nervous, dan sulit tidur), hemoglobin rendah, serta gangguan menstruasi pada wanita (ilmupangan.fb.uns.ac.id/yuksehat.info).


Styrene yang menjadi bahan dasar styrofoam bersifat lunak. Sifat lunak menyebabkan styrofoam tidak cocok untuk wadah makanan atau minuman yang mengandung lemak. Styrene mudah berpindah dari wadah ke makanan yang mengandung lemak. Jika makanan dikemas dalam keadaan panas, maka jumlah styrene yang berpindah dari wadah ke makanan menjadi lebih banyak.



Kertas Pembungkus Non-Kemasan


Kertas koran, majalah, dan karton adalah pembungkus non-kemasan yang sering dipakai oleh penjual gorengan pinggir jalan atau nasi bungkus di warung. Bahan-bahan pembungkus tersebut terdeteksi mengandung timbal (Pb) melebihi batas yang ditentukan. Timbal ini sama bahayanya dengan merkuri yang merupakan jenis logam berat.


Di dalam tubuh manusia, timbal masuk melalui saluran pernapasan atau pencernaan menuju sistem peredaran darah dan kemudian menyebar ke berbagai jaringan lain, seperti ginjal, hati, otak, saraf, dan tulang. 


Tertimbunnya timbal di tulang atau jaringan halus lainnya dalam jangka waktu panjang dapat berakibat pada rusaknya sistem saraf (halosehat.com). Selain itu, timbal juga bisa menyebabkan keracunan.


Beberapa dampak keracunan timbal antara lain, jumlah sel darah merah menurun, logam Fe di plasma darah bertambah, umur sel darah merah jadi pendek, dan kadar protopporhin di sel darah merah jadi bertambah (meningkat).


Solusi: Sebagai usaha pencegahan, bawa sendiri wadah kemasan yang aman untuk makanan.

Senin, 21 Maret 2016

Tiga Perusahaan Raih Indeks SRI-Kehati Terbaik

Unilever Indonesia, Bank BNI, dan Jasa Marga dinobatkan sebagai tiga terbaik dari 25 perusahaan yang masuk dalam daftar Indeks SRI-Kehati 2016. Di samping terus berupaya meningkatkan kinerja bisnis, menurut penilaian Dewan Juri yang diketuai Profesor Emil Salim, ketiga perusahaan ini punya upaya-upaya lebih dalam pelestarian lingkungan dan community involvement.

Acara penganugerahan SRI-Kehati Award 2016 diselenggarakan oleh Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) bersama dengan Majalah SWA di Ceria Room, Hotel Shangri-La, Jakarta, pada 18 Maret 2016. Penyelenggaraan apresiasi SRI-Kehati Award 2016 berbarengan dengan Indonesia Green Companies Award 2016Ada 10 perusahaan yang menerima penghargaan ini. (Lihat daftar di bawah)

SRI-Kehati adalah suatu indeks yang asal namanya berasal dari singkatan Sustainable & Responsible Investment (SRI) yang diluncurkan atas prakarsa Yayasan Kehati dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Juni 2009. Indeks ini dimaksudkan untuk memberi tambahan pedoman investasi bagi investor dengan membuat suatu benchmark indeks baru yang secara khusus memuat emiten yang memiliki kinerja baik dalam mendorong usaha-usaha berkelanjutan, serta memiliki kesadaran terhadap lingkungan hidup, sosial, dan tata kelola perusahaan yang baik.

Direktur Eksekutif Yayasan Kehati M.S. Sembiring mengatakan, agar dapat masuk indeks SRI-Kehati perusahaan harus memenuhi tiga aspek. Pertama, aspek bisnis inti : perusahaan tidak bergerak dalam industri kontroversial seperti pestisida, nuklir, senjata, tembakau, alkohol, ponografi, perjudian, dan produk rekayasa genetika.

Kedua, perusahaan harus memiliki kinerja keuangan yang baik yang ditunjukkan melalui total aset di atas Rp1 triliun, kapitalisasi pasar di atas Rp1 triliun, free float rate di atas 10 persen dan memiliki rasio price earning positif.

Ketiga, perusahaan memenuhi persyaratan aspek fundamental yang terkait dengan Environmental, Social and Governance (ESG) yaitu menjalankan usaha sesuai dengan prinsip berkelanjutan yang peduli terhadap lingkungan hidup dan pengembangan masyarakat di sekitar operasional perusahaan, kepedulian akan hak asasi manusia, ketenagakerjaan, dan menjalankan tata kelola perusahaan yang baik.

Kehati secara berkala menilai elemen-elemen  indeks SRI-Kehati, yaitu dua kali setahun pada bulan Mei dan November. M.S. Sembiring mengatakan, dalam lima tahun terakhir, kinerja indeks SRI-Kehati selalu 10 persen berada di atas nilai indeks LQ 45 dan JII.

Dengan SRI-Kehati Award ini, jelas Sembiring, Kehati ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa masih banyak perusahaan yang bisa menjadi teladan dalam berbisnis, pengabdian masyarakat, dan peduli lingkungan.

Daftar perusahaan indeks SRI-Kehati periode November 2015-April 2016

1. PT Adhi Karya ( Persero) Tbk.

2. PT Astra Argo Lestari Tbk.

3. PT Astra Internasional Tbk.

4. PT Bank Cetral Asia Tbk.

5. PT Bank Danamon Indonesia Tbk.

6 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

7. PT Bank Nasional Indonesia (Persero) Tbk.

8. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

9. PT Gajah Tunggal Tbk.

10 PT Holcim Indonesia Tbk.

11. PT Idofood Sukses Makmur Tbk.

12. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk.

13. PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

14. PT Kalbe Farma Tbk.

15. PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk.

16. PT Perusahaan Gad Negara (Persero) Tbk.

17. PT PP London Sumatra Indonesia Tbk.

18. PT Semen  Indonesia Tbk.

19. PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk.

20. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.

21. PT Timah (Persero) Tbk.

22. PT Unilever Indonesia Tbk.

23. PT United Tractors Tbk.

24. PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

25. PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.

 

Daftar 10 Perusahaan Penerima Indonesia Green Companies Award 2016

1. Chevron Geothermal Salak, Ltd

2. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

3. PT Nestle Indonesia

4. PT Pembangkitan Jawa Bali

5. Pertamina TBBM Bandung Group.

6. PT United Tractors Tbk.

7. PT Astra International Tbk.

8. PT Medco E&P Indonesia.

9. Chevron Geothermal Indonesia, Ltd

10 PT Badak NGL

Senin, 02 November 2015

Jus Terong Belanda Cegah Kanker

Jus terong belanda yang dicampur yogurt ini sangat nikmat diminum siang hari pengganti camilan. Menurut dr. Zefha Stefani, penyusun buku "Jus Sakti untuk Tumpas Berbagai Penyakit",  terong belanda bermanfaat untuk menyembuhkan dan antisipasi kanker.