Kita tentu sudah sangat akrab dengan kemasan makanan ini: botol
plastik air mineral, pembungkus makanan non-kemasan (koran, majalah, buku
bekas), dan styrofoam. Kemasan ini memang praktis dan murah. Namun, di dalam kemasan
tersebut terdapat zat-zat berbahaya bagi kesehatan.
Botol Kemasan Plastik Minuman Jangan Dipakai
Berulang
Kebiasaan ini dapat berakibat buruk pada kesehatan kita,
sebab bahan plastik botol (polyethylene
terephthalate / PET) yang dipakai di botol-botol kemasan ini mengandung
zat-zat karsinogen.
Zat-zat karsinogen menyebabkan kanker dengan mengubah asam deoksiribonukleat (DNA) dalam sel-sel
tubuh, dan ini mengganggu proses-proses biologis (wikipedia.org).
Bila memang ingin memakai ulang kemasan ini, hanya dapat
dipakai 1-2 kali saja, tidak boleh lebih dari seminggu, dan harus ditaruh di
tempat yang jauh dari matahari.
Bila kita menaruh botol kemasan ini di mobil, usahakan tidak
terpapar sinar matahari.
Kebiasaan mencuci ulang juga dapat membuat lapisan plastik
rusak dan zat karsinogen itu bisa masuk ke air yang kita minum.
Styrofoam
Pembungkus makanan ini sangat populer sebagai pembungkus
makanan di Indonesia. Mulai dari makanan kelas pinggir jalan seperti bubur ayam
dan mie ayam hingga restoran di mal-mal masih menggunakan kemasan ini. Padahal
pembungkus ini selain kurang baik bagi kesehatan juga merusak lingkungan karena
tidak bisa didaur ulang dan sulit terurai di alam.
Riset terkini membuktikan bahwa styrofoam diragukan keamanannya
untuk wadah makanan. Penelitian dengan hewan percobaan menyimpulkan, styrene bersifat karsinogenik
(menimbulkan kanker). Beberapa penelitian menunjukkan, styrene juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia,
misalnya neurotoxic (kelelahan, nervous,
dan sulit tidur), hemoglobin rendah, serta gangguan menstruasi pada wanita (ilmupangan.fb.uns.ac.id/yuksehat.info).
Styrene yang
menjadi bahan dasar styrofoam bersifat lunak. Sifat lunak menyebabkan styrofoam
tidak cocok untuk wadah makanan atau minuman yang mengandung lemak. Styrene mudah berpindah dari wadah ke
makanan yang mengandung lemak. Jika makanan dikemas dalam keadaan panas, maka
jumlah styrene yang berpindah dari
wadah ke makanan menjadi lebih banyak.
Kertas Pembungkus
Non-Kemasan
Kertas koran, majalah, dan karton adalah pembungkus
non-kemasan yang sering dipakai oleh penjual gorengan pinggir jalan atau nasi
bungkus di warung. Bahan-bahan pembungkus tersebut terdeteksi mengandung timbal
(Pb) melebihi batas yang ditentukan. Timbal ini sama bahayanya dengan merkuri
yang merupakan jenis logam berat.
Di dalam tubuh manusia, timbal masuk melalui saluran
pernapasan atau pencernaan menuju sistem peredaran darah dan kemudian menyebar
ke berbagai jaringan lain, seperti ginjal, hati, otak, saraf, dan tulang.
Tertimbunnya timbal di tulang atau jaringan halus lainnya
dalam jangka waktu panjang dapat berakibat pada rusaknya sistem saraf (halosehat.com). Selain itu, timbal juga
bisa menyebabkan keracunan.
Beberapa dampak keracunan timbal antara lain, jumlah sel
darah merah menurun, logam Fe di plasma darah bertambah, umur sel darah merah
jadi pendek, dan kadar protopporhin di sel darah merah jadi bertambah
(meningkat).
Solusi: Sebagai usaha pencegahan, bawa sendiri wadah kemasan
yang aman untuk makanan.

Untuk kemasan makananyang paling aman adalah kemasan makanan yang terbauat dari bahan gelas, namun memang jenis bahan gelas tidak praktis, kini lebih beralih pada kemasan berstandard food grade paper, selain aman jenis food grade paper mudah untuk dibawa berpergian,
BalasHapus