Senin, 02 Mei 2016

Zat Berbahaya pada Kemasan Makanan






Kita tentu sudah sangat akrab dengan kemasan makanan ini: botol plastik air mineral, pembungkus makanan non-kemasan (koran, majalah, buku bekas), dan styrofoam. Kemasan ini memang praktis dan murah. Namun, di dalam kemasan tersebut terdapat zat-zat berbahaya bagi kesehatan.


Botol Kemasan Plastik Minuman Jangan Dipakai Berulang

Kebiasaan ini dapat berakibat buruk pada kesehatan kita, sebab bahan plastik botol (polyethylene terephthalate / PET) yang dipakai di botol-botol kemasan ini mengandung zat-zat karsinogen.

Zat-zat karsinogen menyebabkan kanker dengan mengubah asam deoksiribonukleat (DNA) dalam sel-sel tubuh, dan ini mengganggu proses-proses biologis (wikipedia.org).


Bila memang ingin memakai ulang kemasan ini, hanya dapat dipakai 1-2 kali saja, tidak boleh lebih dari seminggu, dan harus ditaruh di tempat yang jauh dari matahari.


Bila kita menaruh botol kemasan ini di mobil, usahakan tidak terpapar sinar matahari.

Kebiasaan mencuci ulang juga dapat membuat lapisan plastik rusak dan zat karsinogen itu bisa masuk ke air yang kita minum.



Styrofoam 


Pembungkus makanan ini sangat populer sebagai pembungkus makanan di Indonesia. Mulai dari makanan kelas pinggir jalan seperti bubur ayam dan mie ayam hingga restoran di mal-mal masih menggunakan kemasan ini. Padahal pembungkus ini selain kurang baik bagi kesehatan juga merusak lingkungan karena tidak bisa didaur ulang dan sulit terurai di alam.


Riset terkini membuktikan bahwa styrofoam diragukan keamanannya untuk wadah makanan. Penelitian dengan hewan percobaan menyimpulkan, styrene bersifat karsinogenik (menimbulkan kanker). Beberapa penelitian menunjukkan, styrene juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia, misalnya neurotoxic (kelelahan, nervous, dan sulit tidur), hemoglobin rendah, serta gangguan menstruasi pada wanita (ilmupangan.fb.uns.ac.id/yuksehat.info).


Styrene yang menjadi bahan dasar styrofoam bersifat lunak. Sifat lunak menyebabkan styrofoam tidak cocok untuk wadah makanan atau minuman yang mengandung lemak. Styrene mudah berpindah dari wadah ke makanan yang mengandung lemak. Jika makanan dikemas dalam keadaan panas, maka jumlah styrene yang berpindah dari wadah ke makanan menjadi lebih banyak.



Kertas Pembungkus Non-Kemasan


Kertas koran, majalah, dan karton adalah pembungkus non-kemasan yang sering dipakai oleh penjual gorengan pinggir jalan atau nasi bungkus di warung. Bahan-bahan pembungkus tersebut terdeteksi mengandung timbal (Pb) melebihi batas yang ditentukan. Timbal ini sama bahayanya dengan merkuri yang merupakan jenis logam berat.


Di dalam tubuh manusia, timbal masuk melalui saluran pernapasan atau pencernaan menuju sistem peredaran darah dan kemudian menyebar ke berbagai jaringan lain, seperti ginjal, hati, otak, saraf, dan tulang. 


Tertimbunnya timbal di tulang atau jaringan halus lainnya dalam jangka waktu panjang dapat berakibat pada rusaknya sistem saraf (halosehat.com). Selain itu, timbal juga bisa menyebabkan keracunan.


Beberapa dampak keracunan timbal antara lain, jumlah sel darah merah menurun, logam Fe di plasma darah bertambah, umur sel darah merah jadi pendek, dan kadar protopporhin di sel darah merah jadi bertambah (meningkat).


Solusi: Sebagai usaha pencegahan, bawa sendiri wadah kemasan yang aman untuk makanan.

1 komentar:

  1. Untuk kemasan makananyang paling aman adalah kemasan makanan yang terbauat dari bahan gelas, namun memang jenis bahan gelas tidak praktis, kini lebih beralih pada kemasan berstandard food grade paper, selain aman jenis food grade paper mudah untuk dibawa berpergian,

    BalasHapus