Kamis, 22 Juni 2017

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto Resmikan Kantor Pusat Baru Unilever

Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, Ms (kanan) dan Prof. Dr. Nuri Andarwulan (tengah) dalam acara Jakarta Food Editor’s Club (JFEC) di Grha Unilever, BSD City, Tangerang. Kiri, pembawa acara Novandito. (lebih banyak foto lihat Album Naive Subject di facebook sumardi sebayang)



















Fenomena Naive Subject merupakan fenomena lonjakan pola konsumsi yang tidak konsisten. Akibatnya, asupan makanan dan minuman melebihi batasan rata-rata kalori makanan.



Pola konsumsi tak konsisten tersebut disebabkan beberapa kondisi yang tak sesuai dengan standar rata-rata kalori harian. Misalnya pada saat berpuasa, berbuka puasa, momen hari raya, arisan, resepsi, hingga penerapan program diet yang kurang terkontrol. Sedangkan, rata-rata asupan kalori harian setiap orang dewasa adalah 2000 kkal.



Fenomena asupan makanan tak konsisten ini memicu konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) yang berlebihan. Asupan GGL yang berlebihan berakibat timbulnya penyakit tidak menular (PTM) pada masyarakat.



Dari berbagai pemberitaan media, menyebutkan bahwa PTM merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia, seperti penyakit jantung, stroke, diabetes melitus, dan obesitas.



Fenomena Naive Subject ini merupakan tema bahasan acara Jakarta Food Editor’s Club (JFEC) yang digelar di Grha Unilever, BSD City, Tangerang, Selasa, 25 Juli lalu.  Forum diskusi redaktur pangan dari media massa di Jakarta ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Ketua Umum PERSAGI Pangan Indonesia Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, Ms dan Direktur SEAFAST Center Prof. Dr. Nuri Andarwulan.



Prof. Andarwulan mengungkapkan, berdasarkan survei SEAFAST Center, ditemukan fakta bahwa asupan garam dan lemak banyak ditemukan pada makanan siap saji. Sedangkan asupan gula banyak ditemukan pada pangan olahan.



Untuk menghindari asupan GGL yang berlebihan dalam pola konsumsi sehari-hari, Prof. Hardin memberikan tips: “Cerdaslah memilih makanan yang akan kita konsumsi sehari-hari dan juga pada momen-momen tertentu, seperti pada resepsi. “Kalau orang mengantre di menu makanan utama, kita bisa memilih buah-buahan terlebih dulu, yang biasanya sepi,” ujarnya.



Acara ini diselingi pula dengan demo masak menu praktis untuk keluarga oleh Chef Gungun dari Unilever Food Solutions (UFS). Chef Gungun menyajikan dua menu yaitu Nasi Goreng Bayam dan Buavita Mango Feast.


Senin, 19 Juni 2017

Stroke Mata dan Penyebabnya


Ternyata, selain di otak, serangan stroke juga bisa terjadi di mata karena tersumbatnya pembuluh darah yang berada di retina sehingga berakibat pada penurunan fungsi penglihatan secara tiba-tiba, bahkan sampai pada kebutaan permanen. Kasus ini disebut juga sebagai Stroke Mata. 

Gejala stroke mata salah satunya adalah penglihatan yang tiba-tiba kabur atau menghilang, disebabkan oleh pembuluh darah di retina yang tersumbat dan pecah. 

Itu pula yang kualami minggu lalu. Pandangan mata kiri tidak fokus. Misalnya melihat benda lurus di kejauhan akan terlihat melengkung. Membaca dengan kacamata plus juga tidak fokus. Setelah dilakukan pemeriksaan, ada pendarahan di retina bagian dalam akibat pembuluh darah yang pecah. 

Dokter spesialis mata di RS mata JEC, dr. Elvioza SpM (K), yang memeriksaku bilang, penyakit yang kualami termasuk stroke mata. Menurut Ketua Vitreoretina Service RS Mata JEC ini gejala penyakit ini memang mirip stroke. Disinyalir penyebabnya karena tekanan darahku yang cenderung tinggi (hipertensi) beberapa bulan terakhir.

Selain hipertensi, beberapa faktor risiko yang bisa menjadi penyebab terjadinya stroke mata yaitu pada orang-orang yang memiliki riwayat penyakit diabetes melitus, penyakit kardiovaskuler, kolesterol tinggi, penggunaan alat kontrasepsi hormonal seperti pil KB. 

Sementara itu, perokok aktif dan juga ibu hamil merupakan golongan yang juga memiliki risiko tinggi terserang stroke mata. Selain itu, faktor genetik pun bisa menjadi salah satu faktor risiko yang mesti diperhitungkan. (sumber:http://jec.co.id/id/news))

Maka, tindakan yang dilakukan untuk mengobati mataku adalah dengan injeksi avastin pada mata kiri pada hari Selasa, 19 Juni 2017. Untuk perkembangannya, dikontrol sebulan lagi.

Rabu, 14 Juni 2017

MANFAAT BELIMBING WULUH

Tanaman Obat Depan Rumah-2

BELIMBING WULUH ATAU SAYUR (Averrhoa Bilimbi)

Manfaat tanaman ini selain sebagai sayur, antara lain, untuk atasi batuk, sakit gigi, dan gejala diabetes.

Juga bisa untuk cegah hipertensi, mengobati jerawat dan menghilangkan panu.

Untuk cegah hipertensi, misalnya, caranya dengan merebus 3 buah yang dicampur 2 gelas air, lalu sisakan setengahnya. Minum 1 X sehari.

Untuk batuk: 6 buah belimbing yg telah dilumat ditambah 1 gelas air dan direbus hingga sisa setengahnya. Minum 2 X sehari.

Selasa, 13 Juni 2017

MAHKOTA DEWA (Phaleria Macrocarpa)

Tanaman Obat Depan Rumahku-1

Tanaman ini banyak dimanfaatkan masyarakat Indonesia, antara lain, sebagai antibakteri, antiperadangan, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan meningkatkan vitalitas.

Selain itu, juga dapat mengurangi kadar gula dalam darah, mengurangi penggumpalan darah, diabetes,  serta mengurangi kolesterol dalam darah. (dari berbagai sumber)

Cara menggunakannya dengan merebus daging buah yg telah matang (warna merah) dengan diiris-iris.

Misalnya utk diabetes: 5 buah mahkota dewa yg telah diris direbus dalam 5 gelas air, lalu sisakan setengahnya. Minum 3X sehari.

Sabtu, 10 Juni 2017

Unilever Perkenalkan Teknologi Daur Ulang Kemasan Sachet di Indonesia

Unilever memperkenalkan teknologi daur ulang sampah kemasan fleksibel atau kemasan sachet yang dinamakan CreaSolv Process. (CreaSolv adalah merek dagang terdaftar dari CreaCycle Gmbh). Unilever bekerja sama dengan Fraunhofer Institute di Jerman dalam mengembangkan teknologi ini.

Governance and Corporate Affair Director Unilever Indonesia Sancoyo Antarikso dalam konferensi pers pengenalan CreaSolv Pocess di Jakarta (17/5/2017) mengatakan, dengan teknologi CreaSolv Process memungkinkan sampah kemasan sachet didaur ulang.

“CreaSolv Pocess ini merupakan tonggak penting bagi Unilever, “ujar Sancoyo, “terutama berkaitan dengan komitmen Unilever untuk mengurangi dampak lingkungan. Teknologi ini berpotensi menjadi solusi untuk mengatasi masalah sampah plastik fleksibel.”

Head of Circular Economy, Manufacturing Sustainability and Renewable Energy SEAA Project Unilever Anton Harjanto mejelaskan, lebih dari 60% kemasan fleksibel (lapisan dalam kemasan) terbuat dari polietilena sehingga dalam prosesnya pihaknya fokus mendaur ulang polietilena. Hasilnya berupa biji polietilena film (lapisan plastik) yang dapat digunakan kembali menjadi sachet. Selebihnya (lapisan luar kemasan), berupa residu film, dapat digunakan kembali menjadi berbagai keperluan, seperti palet plastik.

Anton mengatakan, saat ini Unilever telah membuka pabrik percontohan CreaSolv Pocess di Jawa Timur dan akan melakukan percobaan untuk menguji efektifitas teknologi tersebut. Pada tahap awal, teknologi tersebut berpotensi menyerap tiga ton sampah kemasan platik fleksibel bersih per hari. Sementara pada skala komersial, berpotensi mengurangi dampak CO2 sebesar 7.800 ton per tahun utuk tiap unit operasi, setara dengan 8.200 ton plastik fleksibel.

CEO Greeneration Indonesia Mohamad Bijaksana Junerosano mengatakan sampah sachet harus mendapat perhatian khusus. Sebab miliaran kemasan sachet sekali pakai diproduksi setiap tahun, terutama di negara berkembang. Tanpa solusi daur ulang, kemasan sachet berakhir di tempat pembuangan sampah akhir atau sebagai sampah yang mengotori lingkungan, termasuk lautan.

Staf Ahli Menteri Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ir. Ilyas Assad, MP, MH, menyambut baik terobosan Unilever untuk mengatasi masalah sampah kemasan sachet tersebut. “Komitmen Unilever terhadap lingkungan sejalan dengan ambisi kami untuk menciptakan Indonesia bebas sampah pada 2020,” ujarnya.

Dengan adanya teknologi daur ulang sampah kemasan sachet tersebut, General Manager Yayasan Unilever Indonesia Sinta Kaniawati mengatakan, pihaknya akan memberdayakan ribuan pemulung dan masyarakat, juga bekerja sama dengan bank sampah, pemerintah, serta pengecer lokal untuk pengumpulan sampah kemasan sachet untuk selanjutnya didaur ulang di pabrik CreaSolv Pocess. Mekanisme tersebut akan diintegrasikan dalam sebuah model yang dapat meningkatkan pendapatan industri daur ulang dan seluruh pemangku kepentingan yang terlibat.

Jumat, 09 Juni 2017

Rasakan Keberadaan-Nya

Pegunungan tampak hitam ketika berada jauh, tapi warna pegunungan itu jauh berbeda daripada apa yang kita rasakan dengan indra kita.

Penyebab ilusi ini adalah jarak. Hal yang sama berlaku untuk kebiruan langit. Kita merasakan benda gelap apa pun dengan cara yang sama ketika kita berjauhan dari benda itu. Kondisi ini berlaku juga untuk acuan benda-benda yang memungkinkan. Benda-bena itu tidak memantulkan cahaya mereka sendiri, karena mereka dianggap tidak ada. Benda-benda semacam itu mempunyai kekonstanan abadi dalam kesadaran ilahiah. Selain itu, ketika benda-benda semakin jauh, mereka menjadi semakin kecil, walaupun mereka diterangi. Inilah efek lain jarak terhadap anggapan.

Pada kenyataannya, benda-benda ini lebih besar daripada yang tampak--sama seperti matahari dan bumi. Jagad raya dikenal pada tingkatan bayang-bayang yang dirasakan, sama seperti seseorang tetap tidak dikenal walaupun bayang-bayangnya terlihat. Dengan cara sama, Allah tetap tak terlihat ketika Dia hanya dirasakan dengan merenungkan jagad raya. (Cuplikan "Sang Musafir", Novel Perjalanan Spiritual Ibn'Arabi; o/Sadik Yalsizucanlar)